Kamis, 13 Juni 2013

Menikmati Chiangmai nan Damai

Chiangmai berjarak 600-700 kilometer dari Bangkok. Jika melalui perjalanan darat, Chiangmai bisa ditempuh lebih dari 8 jam perjalanan. Namun, jika dijangkau dengan pesawat terbang, hanya butuh satu jam untuk mencapai kota berjuluk ”Rose of Thailand” tersebut.

Tidak salah juga jika kota terbesar kedua di Thailand ini disebut sebagai ”Mawar Thailand”. Di beberapa sudut kota berpenduduk 1,6 juta jiwa itu banyak terdapat taman kota dengan berbagai bunga cantik sebagai penghias, termasuk mawar tentu saja.

Namun, mungkin sebutan ”Mawar Thailand” ini karena Chiangmai adalah kota nan cantik, damai, dan nyaman. Kita tidak akan mendapati mobil berseliweran tanpa arah, saling klakson, dan bersaing adu cepat. Pengendara roda empat bahkan dengan ramah memberikan ruang bagi pejalan kaki untuk melintas terlebih dahulu.

Waktu ternyaman adalah pada hari Minggu. Sebab, kota ini seakan tertidur pada hari libur tersebut. Aktivitas lalu lintas baru terasa meningkat saat tengah hari. Sangat cocok bagi pejalan kaki jika ingin menikmati seluruh pusat kota Chiangmai dengan leluasa.

Chiangmai adalah kota pejalan kaki. Hampir sebagian besar wisatawan di sana menikmati keindahan pusat kota dengan berjalan kaki. Jalan-jalan seperti Rachadamnoen Road, Thapae Road, dan Chang Klan Road adalah jalan-jalan utama untuk menikmati keramahan Chiangmai.

Jalur bagi pejalan kaki tidaklah besar, tidak lebih dari 2,5 meter. Namun, kondisinya sangat bersih dan terawat. Nyaris tidak ada tumpukan sampah yang mengganggu pemandangan. Jika tidak ingin berjalan kaki, wisatawan bisa naik tuk tuk, angkutan umum, atau menyewa motor dan mobil yang banyak terdapat di Chiangmai.

Bersih

Di kanan-kiri jalan, kios-kios suvenir, pakaian, makanan, dan pijat refleksi seakan menyapa wisatawan yang melintas. Bangunannya sangat terbuka, bersih, dan nyaman.

Ada beberapa lokasi yang bisa dikunjungi saat berada di Chiangmai. Selain menikmati kios aneka produk di kanan-kiri jalan, wisatawan bisa juga singgah menikmati keindahan dan keramahan kuil Buddha di Chiangmai. Chiangmai memang dikenal sebagai kota dengan ratusan kuil.

Kuil di tengah kota tua Chiangmai yang sempat saya singgahi adalah Wat Prasingh. Kuil di Singharat Road itu memang salah satu kuil yang sangat terbuka bagi wisatawan. Wisatawan bisa menikmati kemegahan dekorasi kuil, berdoa, atau menyaksikan para biksu menjalani ritual makan bersama dan berdoa. Di kuil yang dibangun pada 1345 tersebut terdapat patung Buddha besar yang menjadi daya tarik utama.

Kuil menarik lain yang patut disinggahi adalah Wat Doi Suthep. Kuil di lereng Pegunungan Doi Suthep itu merupakan salah satu kuil terindah dan paling ramai dikunjungi wisatawan. Karena letaknya di pegunungan, saat cuaca cerah orang bisa melihat kota Chiangmai dari ketinggian.

”Doi Suthep artinya semacam menara pengawas. Ini karena lokasinya yang bisa memantau seluruh kota Chiangmai,” ujar Singh (44), pemandu tur ke kuil itu.

Sekitar 45 menit berkendara, sampailah saya di Wat Doi Suthep. Untuk sampai ke kuil, kita harus mendaki 300-an anak tangga.

Lelah saat meniti anak tangga rasanya terbayar ketika melihat kemegahan kuil yang dibangun pada 1383 itu. Kuil itu cukup megah dan besar. Stupa warna kuning emas menjulang tinggi seakan mencoba mendekatkan umatnya kepada Sang Kuasa.

Jika siang hingga sore harinya kita menikmati wisata religius Chiangmai, pada malam hari kita bisa menikmati keramahan dan kesederhanaan pasar malam Chiangmai. Sepanjang jalur pasar malam di Chang Klan Road adalah pilihan tepat untuk mencari makan, minum, suvenir, ataupun merasakan pijat refleksi khas Thailand.

Pasar malam itu buka mulai pukul 18.00 hingga pukul 24.00 waktu setempat. Mereka berjualan di lapak-lapak dengan gerobak dorong yang dengan mudah dipindahkan saat jam dagang usai.

Pasar malam Chiangmai ini jangan dibayangkan seperti pasar tumpah di kebanyakan kota-kota di Indonesia. Pasar ini berisi pedagang kaki lima (PKL) yang sangat rapi, sopan, dan tertib dalam berjualan. Tidak ada paksaan bagi pengunjung untuk membeli dagangan mereka. Penjual baru akan menjelaskan soal dagangannya saat ditanya oleh calon pembeli.

Anusarn Market adalah salah satu bagian dari pasar malam Chiangmai. Letaknya di belakang gedung-gedung dan hotel bertingkat di Chiangmai. Meski tersembunyi, umumnya wisatawan tak melewatkan mengunjungi pasar malam itu.

Hampir semua produk khas Thailand, seperti oleh-oleh, suvernir, kaus, makanan dan minuman, ada di sini. Harganya pun terjangkau. Kaus berkualitas sedang bisa diperoleh dengan harga 150-190 baht atau sekitar Rp 60.000.

Meski hanya merupakan kumpulan PKL, sekali lagi pasar malam ini sangat bersih dan rapi. Tak heran jika setiap malam selalu ramai pengunjung. ”Selalu ada petugas kebersihan sebelum dan setelah waktu berjualan. Kami pun diwajibkan menjaga kebersihan agar pengunjung nyaman,” ujar Tcham (41), pedagang di Pasar Anusarn.

Tcham bercerita, dia tidak mengambil untung banyak dari pembeli. Ia harus menjaga kenyamanan setiap pembeli yang datang. Dia yakin, jika sekali wisatawan tertarik dengan kondisi di Chiangmai, misalnya di Anusarn Market, suatu saat mereka akan kembali.

Sungguh menarik. Chiangmai mengajarkan bahwa PKL pun bisa menjadi daya tarik wisata asal ditata dengan baik. Meski hanya PKL, mereka pun memiliki pandangan bagus mempertahankan pelanggan. Pembeli tidak dilihat sebagai obyek yang hanya akan datang satu-dua kali, tetapi sebagai aset yang mungkin akan berkunjung berkali-kali jika merasa senang. (Dahlia Irawati)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Menikmati Chiangmai nan Damai

0 komentar:

Posting Komentar


-Kami tidak akan segan-segan menghapus komentar anda jika tidak berhubungan dengan artikel.
-Dilarang keras berkomentar dengan live lnik (akan dihapus).
-Komentar yang membangun sangat kami harapkan Untuk memajukan blog ini.